Malang (MI Manarul Islam) – Sebanyak 20 guru MI Manarul Islam mengikuti kegiatan MIMI Talk ke-3 pagi ini (05/02). Kegiatan yang dilaksanakan di kelas 1A MI Manarul Islam ini mengangkat tema Ilmu Hadits yang disampaikan oleh guru PAI MI Manarul Islam, Hasan Ali Rafsanjani. Seluruh peserta MIMI Talk terlihat serius dalam menyimak penjelasan dari pemateri dan bagi sebagian peserta ini merupakan ilmu yang baru mereka pelajari. Kegiatan dibuka oleh moderator dengan membaca surat Al Fatihah dan dilanjutkan dengan membaca surat At Takatsur. Kegiatan membaca Al Quran ini merupakan tradisi para guru MI Manarul Islam ketika akan memulai rapat atau kegiatan bersama lainnya.



Dalam penyampain materi kali ini, Hasan lebih memfokuskan penjelasan mengenai istilah-istilah dalam ilmu hadits dan pembagian hadits dari segi jumlah perawinya. “Jadi hadits dulu itu disampaikan oleh Nabi kepada para sahabatnya. Kemudian sahabat menyampaikan pada tabi’in. Di zaman tabi’in ini hadits baru dibukukan, saat masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz,” ujar pria kelahiran Brebes itu. Mengenai pembagian hadits sesuai segi jumlah perawinya, ada dua jenis hadits, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan dengan jumlah perawi yang banyak sehingga tidak mungkin adanya kebohongan dalam haditsnya. “Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar hadits bisa disebut mutawatir yaitu jumlah perawinya minimal sepuluh,” ujar lulusan Bahasa Arab UIN Maliki Malang itu. Sedangkan hadits ahad jumlah perawinya tidak sebanyak hadits mutawatir.



Selain menjelaskan tentang pembagian hadits, Hasan juga menjelaskan beberapa jenis kitab hadits yang mana setiap kitab memiliki ciri khas tersendiri. “Yang pertama ada Al Jami’ itu haditsnya global mulai dari bab niat sampai seterusnya ada semua. Contohnya seperti Shahih Al Bukhari. Kedua ada As Sunan itu dikelompokkan sesuai hukum fiqih. Ketiga ada Al Musnad yaitu digolongkan sesuai siapa sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut dan yang terakhir ada Al Mu’jam itu seperti kamus. Jadi kita mau cari hadits yang lafadznya gimana nanti tinggal cari huruf awalnya apa,” jelas Hasan.

Di akhir pertemuan, Hasan menyampaikan bahwa ilmu agama harus diajarkan dengan cara talaqqi, yaitu bertemu langsung antara pelajar dan guru. Selain itu, harus selektif memilih guru yang harus jelas sanadnya hingga Nabi. “Kita harus telusuri dulu track record guru kita. Nyambung apa nggak sampai Rasulullah,” kata Hasan. Menutup kegiatan tersebut, Kepala MI Manarul Islam, Zainul Mujahid, mengusulkan para guru untuk bersama-sama belajar hadits dan harus terprogram. “Jangan sampai kita ini guru MI tapi kita tidak paham istilah sanad, hadits, matan, dan sebagainya. Sehingga perlu kita program duduk bersama untuk belajar dan menghafal hadits,” kata Zainul (yna).