Malang (MI Manarul Islam) – MI Manarul Islam kembali menorehkan prestasi. Bukan santri atau guru, namun kepala madrasah yang mencetak prestasi kali ini. Adalah Zainul Mujahid, Kepala Madrasah MI Manarul Islam telah menjadi pembicara nasional dalam kegiatan Seminar Nasional dengan tema Penjaminan Mutu Madrasah Swasta. Kegiatan yang di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia ini berlangsung di Double Tree Hotel Cikini, Jakarta.
Dalam kesempatan ini, Zainul membawakan sebuah hasil penelitian yang berjudul Peran Signifikan Kepala Madrasah dalam Tata Kelola Madrasah Unggul: Praktik Baik Total Quality Management di MI Manarul Islam Malang. “Sebenarnya penelitian ini berdasarkan teori ekonomi. Hanya saja diterapkan dalam dunia pendidikan. Jadi Total Quality Management ini bisa diartikan sebagai seni dalam mengelola keseluruhan SDM dan potensi yang ada untuk mendapatkan keunggulan. Sebenarnya kalau di teori aslinya untuk perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Tapi ini dunia pendidikan tidak pantas kita menyebut keuntungan. Keunggulan yang paling pas,” kata Zainul ketika diwawancarai di ruang kepala madrasah Senin lalu (15/11). Praktik Total Quality Management ini sudah dilakukan Zainul sejak diangkat menjadi Kepala Madrasah MI Manarul Islam pada 2019 lalu. “Jadi teman-teman ini secara tidak sadar sudah saya ajak dalam program ini. Bentuknya seperti melakukan pembinaan, diskusi, kemudian melibatkan guru-guru untuk menetapkan kebijakan. Kemudian saya juga membebaskan teman-teman guru untuk melakukan inovasi apapun yang positif untuk proses pembelajaran tanpa takut di bawah bayang-bayang saya. Karena orang tidak bisa berinovasi jika berada di bawah ketakutan,” sambung Zainul.
Namun dalam pelaksanaan program ini, masih ada kendala di lapangan yang menghambat berjalannya program ini. Hambatan itu antara lain kurangnya kesadaran SDM madrasah untuk bersama-sama mewujudkan terbentuknya madrasah unggul. “Strategi yang saya lakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan ini adalah dengan membangun kesepahaman bersama terkait visi misi, bagaimana berinovasi bersama, dan itu tidak mudah. Karena mereka sudah memiliki cara sendiri-sendiri yang nyaman bagi mereka. Sehingga mereka harus memprogram kerjanya secara baik dan sesuai dengan visi madrasah. Contohnya seperti apa? Harus berorientasi dengan masa depan, kemudian terukur, dan targetnya jelas. Jika itu sudah jelas, kita tinggal bekerja saja,” kata pria dari Lombok ini. Ia juga mengatakan bahwa program ini sudah mulai terlihat hasilnya dengan munculnya nama-nama santri yang berprestasi baik di tingkat kota, propinsi, maupun nasional. Tidak hanya santri, guru-guru juga banyak yang terpilih sebagai instruktur dan reviewer soal AKMI baik tingkat kota, propinsi, maupun nasional.
Penelitian yang dilakukan Zainul ini bersifat on going process, masih berlanjut hingga sekarang. “Alhamdulillah kemarin kita mendapatkan peringkat kedua dari 24 penelitian yang ditampilkan. Hanya tiga penelitian di tingkat MI. Salah satunya dari MI Manarul Islam dan alhamdulillah naskah kita diterima dengan baik. Insya Allah naskah kita juga akan dijadikan bahan tata kelola madrasah di tingkat nasional,” ujar Zainul. Ia juga beranggapan bahwa pencapaian ini bukan pencapaian pribadinya, namun pencapaian seluruh warga MI Manarul Islam. “Tanpa mereka, saya tidak bisa menulis penelitian ini,” sambung Zainul.

Zainul juga menyampaikan naskah keduanya yang berjudul Restrukturisasi Organisasi. “Bagi saya, banyaknya bagan di organisasi itu bukan dilihat dari efisien atau tidak. Tapi lebih ke keperluan. Harus ada distribution of power, ada check and balance. Maka dari itu di MI Manarul Islam di struktur ada yang namanya Korbid Kurikulum, Kornit Sarpras, Kornit Kesiswaan, dan lain sebagainya. Tujuannya salah satu untuk meringankan tugas kepala madrasah,” kata Zainul. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan tentang Longterm Trust di manan SDM juga harus meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada madrasah. “Insya Allah kalau di masyarakat sudah percaya kepada kita, mereka akan datang sendiri untuk belajar di sini,” kata Zainul.
Kegiatan yang berlangsung sejak hari Selasa hingga Kamis (9-11/11) ini tidak hanya dihadiri oleh kepala madrasah dan dosen saja. Namun ada juga guru berprestasi di bidang asesmen yang hadir. Jenis penelitian yang diangkat Zainul ini berupa narrative experiences di mana seorang pelaku langsung sebagai penelitinya. “Lantas apakah penelitian ini subjektif? Iya, penelitian kualitatif memang ada unsur subjektifnya. Tapi kita bisa meminimalisir dengan memperbanyak data dan diperkuat dengan kerangka teori,” kata Zainul. Ia berencana menyampaikan hasil seminarnya ini di hadapan para guru MI Manarul Islam setelah pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS) yang mulai dilaksanakan pekan depan (yna).