Waktu Sekolah Telah Tiba oleh Sayyidah Nafisah

Tit-tit! Suara alarm terdengar begitu keras hingga gadis kecil yang masih berada di balik selimut
terbangun dengan terkejut.

“Huh, bikin kaget saja! Kupikir tadi suara alarm kebakaran,” ujar gadis kecil itu dengan nada
kesal.

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari balik pintu memanggil, “Nalara! Ayo bangun dan
bersiap mandi! Hari ini kita harus berangkat pagi,” kata ibu dengan suara teriakan yang agak
keras.

Nalara sebenarnya merasa sangat malas menjalani hari Senin. Namun, ia langsung teringat sabda
Rasulullah saw., “Amal-amal manusia diperiksa pada setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku
menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” Hadits itu
membuat semangat Nalara kembali bangkit untuk bersekolah.

“Iya, Bu,” jawab Nalara sambil perlahan turun dari tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian,
setelah mandi dan berganti pakaian, Nalara segera turun ke bawah. Dengan tergesa-gesa, ia
mengambil sepotong roti, sementara tas sudah tersampir di bahu kanannya. Jam menunjukkan
pukul 06.15. Nalara mulai panik karena ia harus tiba di sekolah pukul 06.30.

Nalara berlari menuju tempat sepatu dan memakainya dengan terburu-buru hingga hampir
terjatuh.

“Aduh, Nalara! Jangan terburu-buru. Tenang, masih ada waktu. Kamu ingat hadits yang baru
saja kamu pelajari kemarin?” tanya ibu sambil mengingatkan. Nalara berpikir sejenak dan
teringat pada sebuah hadits:

Artinya: Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.

Setelah mengingat hadits itu, Nalara kembali tenang. Ia duduk di ruang tamu sambil mengunyah
roti yang sedari tadi berada di mulutnya.

Dalam perjalanan ke sekolah, Nalara melihat orang-orang sibuk berlalu-lalang, mulai dari pelajar hingga pekerja. Ia menikmati pemandangan itu sampai akhirnya tiba di depan gerbang sekolah. Sebelum keluar dari mobil, Nalara tidak lupa memberi salam dan mencium tangan ayahnya.

Sesampainya di sekolah, Nalara merasa waktu berjalan begitu cepat. Baru saja ia menikmati libur panjang selama dua minggu, kini ia sudah kembali ke kelas. Saat memasuki kelas, Nalara melihat teman-temannya sudah berkumpul bersama. Sebelum bergabung, Nalara menyempatkan diri bersalaman dengan wali kelasnya.

Bel pun berbunyi. Nalara bersama teman-temannya segera turun untuk menunaikan salat Dhuha. Setelah selesai, mereka kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran sesuai jadwal. Hari itu, kelas Nalara diajar oleh Ustadz Faizal, guru yang cukup terkenal di sekolah. Ustadz Faizal sering kali menjelaskan materi dengan cara yang menarik, termasuk mengajarkan hadits-hadits penting.

Di tengah pelajaran, Ustadz Faizal meminta siswa-siswi membuat kelompok untuk merangkum materi ujian madrasah (AM), karena Nalara sudah duduk di kelas 6. Kelompok Nalara mendapat tugas merangkum bab tentang khitan, termasuk hukum, usia, dan hikmahnya.

Ketika bel pulang berbunyi, Nalara segera membereskan barang bawaannya. Sambil bersiap, tiba-tiba Aya, teman sekelasnya, menyentuh bahunya dari belakang. “Eh, Allahu Akbar! Ya Allah, kenapa sih bikin aku kaget saja?” seru Nalara.

“Hehehe, maaf, Neng. Temenin aku jajan nanti, ya?” pinta Aya.

“Boleh, siapa yang melarang?” jawab Nalara sambil tersenyum. Setelah ketua kelas memimpin doa, semua murid berbondong-bondong keluar kelas. Saat berjalan bersama Aya, tiba-tiba Salwa, teman lainnya, menggandeng tangan Nalara dari belakang.

“Haiiii, Nalaraaaa!” seru Salwa dengan senyuman manis.

“Eh, Salwa! Kamu bikin aku kaget lagi. Ada apa?” tanya Nalara sambil memandang tangan Salwa yang masih menggandengnya.

“Aku mau ikut jajan dong,” jawab Salwa dengan wajah memohon.

“Boleh, boleh,” sahut Nalara.

Saat mereka hendak turun tangga, tiba-tiba Kaka, teman lainnya, muncul dan berteriak, “Baa!”

Nalara kembali terkejut.

“Ya Allah, Kaka! Kamu sama saja seperti Salwa,” ujar Nalara dengan kesal. Aya, Salwa, dan Kaka tertawa melihat Nalara yang mudah terkejut. Akhirnya mereka turun bersama dari lantai dua menuju kantin untuk membeli jajanan. “Wah, beli apa ya?” Salwa tampak bingung memilih.

Namun lagi-lagi, Nalara terkejut saat ibunya tiba-tiba muncul di belakangnya. Es krim yang baru
saja dibelinya terjatuh. “Allahu Akbar! Ya Allah, kaget mulu dari tadi,” keluh Nalara. Ketiga temannya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Nalara.

“Sekaget apa sih, Nalara? Ibu dari tadi sudah di belakangmu,” ujar ibu sambil tersenyum. “Sudah selesai belanja jajannya? Ibu capek nungguin kamu.”

“Gara-gara Ibu, es krimku jadi jatuh,” jawab Nalara sambil manyun.

“Ya sudah, ayo pulang,” ajak ibu. Mereka pun menuju parkiran.

“Dadah, teman-teman!” ujar Nalara sambil melambaikan tangan ke arah teman-temannya. Dalam perjalanan pulang, Nalara berpikir dan merasa mendapat hikmah bahwa hari yang tidak kita sukai akan terasa cepat berlalu jika kita jalani tanpa mengeluh. Selain itu, tergesa-gesa tidaklah baik karena dapat menyebabkan kerugian. Kita harus belajar untuk lebih tenang, mandiri, dan tidak memilih-milih teman.