Kubuka kaca jendela mobil saat melihat enam anak perempuan di depan pagar pondok pesantren. Mereka semua temanku, Salwa, Khoira, Billa, Labibah, Kayla, dan Cia. Kulambaikan tangan penuh semangat, berharap mereka melihatku. Tak lama kemudian, mereka sudah berseru memanggil dan melambaikan tangan.
Bergegas aku langsung turun dari mobil dengan tas ransel dipunggung dan boneka di lengan kanan. Teman-teman menyambutku riang membuatku tersenyum senang. Kemudian aku mengikuti ibu menuju mobil bagian belakang untuk mengambil barang bawaan. Ibuku membantu menurunkan koper, sedangkan aku langsung menyambar tas yang lain. Kuletakkan tas diatas koper dan menunggu ibu menurunkan kasur yang akan kugunakan untuk tidur di kegiatan Tahfidz Student Camp selama lima hari kedepan. Ya … aku mengawali liburan sekolah semester ini dengan mengikuti Tahfidz Student Camp di Pondok Pesantren Daarul Ukhuwah Putri Malang.
Setelah temanku seorang lagi tiba, yaitu Nafisah, kami mulai membicarakan keseruan acara-acara pondok nanti. Aku agak kaget saat dikatakan harus bangun pukul tiga pagi untuk salat tahajud, lalu tidurnya jam sepuluh malam. Kegiatannya juga sangat padat. Kira-kira, capek atau tidak, ya?
Rutinitas kami setiap hari sudah terjadwal seperti anak pondok pada umumnya. Aku yang tidak terbiasa harus berusaha keras menyesuaikan diri. Mungkin yang membedakan, kegiatan di pagi hari waktu kegiatan olahraga, karena diisi dengan aktifitas yang berbeda setiap harinya. Waktu yang menyenangkan itu saat menjelang Maghrib sampai tidur, karena kami bisa bersama-sama dan kegiatannya menyenangkan. Walaupun hanya materi, ice breaking dan menonton film, tapi kalau bersama-sama teman pasti menyenangkan!
Ada saat dimana aku benar-benar menanti hari kepulangan, karena suasana di pondok mulai memburuk. Di hari kedua, banjir yang lumayan parah menyerang ponpes dan kawasan sekitar ponpes. Rumah warga ada yang kebanjiran. Sungai dekat masjid yang biasanya surut malah meluap sehingga tempat cuci piring terendam seluruhnya. Akibatnya kegiatan malam di jam setengah sembilan terpotong gara-gara banjir. Acaranya menjadi rusak. Semuanya disuruh kembali ke kamar. Banjir sudah merendam kakiku sampai lutut.
Namun kerja keras itu terbayarkan dengan acara keesokan harinya, yaitu pergi outbond ke Gentong Mas, Wajak. Di sana sangat menyenangkan. Kami bisa bermain flying fox, berenang, halang rintang, dan masuk ke sawah untuk menanam padi. Aku paling tidak suka yang halang rintang dan menanam padi, karena harus bermain lumpur yang sangat tidak enak baunya. Apalagi sensasi saat merendam kaki ke lumpur saat di sawah, perasaan jadi kurang enak, takut ada sesuatu di dalam lumpur. Tapi, setelah itu kami bisa berenang di kolam renang. Dan aku sangat terkejut karena tiba-tiba kolamnya dipenuhi gelembung dan gumpalan sabun. Rupanya ada meriam sabun di kolam itu. Luar biasa seru! Jarang ada di kolam renang lain. Kami juga memborong Pop Mie dan Pop Ice disana. Keren dan sangat menyenangkan, deh!
Akhirnya hari kepulangan tiba. Aku sudah mengemasi barang-barang pada waktu siang hari, dibantu Salwa dan Kayla. Waktu berjalan sangat sangat sangat lama hari itu. Seolah-olah masih dua hari lagi waktu pulangnya, ditambah masih ada rutinitas seperti biasa pada hari itu. Tapi tidak apa-apa. Kalau rewardnya pulang, semua akan aku lakukan karena aku sudah sangat rindu untuk pulang.
Acara penutupan juga berlangsung lumayan seru. Namun sampai acara selesai, orang tuaku belum juga tiba. Padahal orang tua teman-temanku sudah banyak yang datang. Di waktu itu juga aku baru berkenalan dengan teman-teman dari luar kota dan luar sekolah, bahkan luar pulau. Aku berkenalan dengan Annisah, teman dari pulau Madura. Tapi kami langsung berpisah. Sungguh disayangkan. Seandainya waktu tinggal di pondok lebih lama, mungkin aku bisa lebih akrab dan bersahabat dengan teman-teman baruku yang lain.
Pengalaman belajar di ponpes selama lima hari ini membuatku menjadi lebih rajin, mandiri, dan disiplin. Aku mandiri saat mencuci piring, mengurus pakaianku, dan merapikan tempat tidur serta barang-barangku. Walau belum bisa serajin teman-temanku yang lain, tapi itu sudah keajaiban untuk diriku. Memang rasa kangen rumah masih sering muncul yang membuatku ingin segera pulang, tapi masa-masa selama mengikuti Tahfidz Students Camp di ponpes akan selalu menjadi kenangan berharga buatku.
