Aku, Anakku, dan Al-Qur’an oleh Dewi Latifah (Guru PAI Kelas 3) dan Mirwahatul Rihi (Wali Kelas 3B)

Aku adalah orang tua yang membersamai anakku dengan Al-Quran walaupun sudah tak lagi muda. Memang benar bahwa di zaman sekarang banyak orang tua yang sangat bersemangat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang fokus pada penghafalan Al-Qur’an. Hal ini merupakan bentuk cinta dan harapan agar anak-anak mereka menjadi generasi yang kuat dalam memegang ajaran agama. Namun dalam usaha tersebut, kadang-kadang ada kecenderungan untuk lebih fokus pada pencapaian anak dan melupakan potensi besar yang dapat dicapai orang tua seperti yang tercermin dalam contoh para sahabat Nabi Muhammad Saw.

Dalam sejarah Islam, banyak sahabat yang menghafal Al-Qur’an bersama dengan keluarga mereka. Misalnya Sayyidina Ali bin Abi Talib, yang meskipun sangat sibuk dengan tugas-tugas sebagai khalifah. Beliau tetap berkomitmen untuk mempelajari dan menghafal Al-Qur’an bersama dengan anak-anaknya, bahkan dengan istri dan keluarga. Hal yang serupa juga berlaku bagi banyak sahabat yang tidak hanya menghafal Al-Qur’an untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk mendidik keluarga mereka.

Seiring waktu, mungkin orang tua saat ini merasa bahwa anak-anaklah yang lebih “layak” untuk menghafal Al-Qur’an dengan cepat dan mereka ingin anak-anak mereka mencapai tingkat keilmuan agama yang lebih tinggi. Namun, ini tidak berarti bahwa orang tua harus merasa rendah diri atau menganggap diri mereka tidak mampu. Orang tua sebenarnya memiliki banyak kelebihan dalam hal pengalaman hidup, kedekatan dengan anak-anak, dan kedalaman cinta untuk mendidik mereka. Bahkan, dalam banyak kasus orang tua yang menghafal bersama anak mereka justru menciptakan ikatan yang lebih kuat dan memberikan teladan yang baik bagi anak-anak mereka.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, dalam Surah Al-Alaq (96:1-5):

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajarkan dengan kalam, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa pembelajaran adalah perjalanan yang dapat dilalui oleh siapa saja, semua usia, dan yang terpenting adalah niat serta usaha yang dilakukan untuk memahami dan mengamalkan ilmu yang diajarkan oleh Allah.

Seharusnya, orang tua tidak merasa terpisah dari usaha ini. Justru, belajar bersama anak-anak dan mendampingi mereka menghafal Al-Qur’an bisa menjadi ladang pahala yang sangat besar. Selain itu, proses ini akan mempererat hubungan batin antara orang tua dan anak serta memberi manfaat jangka panjang baik untuk dunia maupun akhirat.

Kunci yang utama adalah mengenali bahwa setiap individu memiliki kapasitas untuk terus belajar, tidak peduli berapa pun usia mereka. Menghafal Al-Qur’an bukan hanya tugas anak-anak, tetapi juga menjadi kewajiban dan kesempatan yang sangat mulia bagi setiap Muslim, baik tua maupun muda. Seperti sabda Nabi Muhammad saw.:

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Hal tersebut menunjukkan bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah tugas mulia yang bisa dilakukan oleh siapa saja, sepanjang hidup mereka.

Dengan demikian, orang tua bisa mendampingi anak-anak mereka dalam proses belajar Al-Qur’an dengan cara yang penuh kasih sayang dan kesabaran. Proses ini bukan hanya tentang menghafal, tetapi juga tentang membangun ikatan yang kuat antara orang tua dan anak. Ketika orang tua dan anak saling mendukung, menghafal bersama dengan istiqamah, hasilnya bukan hanya tentang jumlah hafalan yang tercapai, tetapi juga tentang kedekatan spiritual dan kebersamaan yang terjalin. Hal ini akan membawa keberkahan dalam perjalanan mereka bersama untuk menghafal Al-Qur’an.