Penulis : Ehsan Masood
Penerbit : Gramedia
Tanggal rilis : 2009
Halaman : xi, 183 halaman
Jumlah halaman: 183 halaman
Buku ini menyajikan tinjauan ringkas dalam tiga bagian utama. Bagian awal mengkaji latar belakang kelahiran Nabi Muhammad SAW dan kondisi sosial masyarakat Makkah pada masa itu. Menariknya, buku ini juga membuat perbandingan dengan konteks Eropa saat dikuasai oleh Romawi. Fokus utama bagian ini adalah pada peristiwa penting penerimaan wahyu pertama dan bagaimana pesan ‘bacalah’ yang disampaikan malaikat menjadi landasan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan dalam Islam, seperti yang dijelaskan pada halaman 20.
Buku ini menggarisbawahi pentingnya peran para pemimpin setelah Khulafaur Rasyidin dalam memicu perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam. Dimulai dari masa Dinasti Umayyah pada tahun 661 M, para khalifah secara bertahap menumbuhkan budaya ilmiah. Hal ini kemudian melahirkan banyak ilmuwan muslim terkemuka pada abad-abad berikutnya.
Masa Dinasti Umayyah ditandai oleh semangat inovasi yang tinggi, tercermin dalam kemajuan pertanian dengan teknik baru dan penerbitan mata uang logam. Semangat keagamaan juga menjadi pendorong utama berbagai perkembangan ini. Namun, di sisi lain, ketidakpuasan politik, terutama di wilayah Persia, mulai menggoyahkan stabilitas pemerintahan Umayyah.
Ketidakpuasan politik yang memuncak pada masa Dinasti Umayyah akhirnya memicu peralihan kekuasaan ke tangan Dinasti Abbasiyah. Periode Abbasiyah, khususnya di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Ma’mun, menandai era keemasan peradaban Islam, terutama dalam bidang sains, teknologi, dan filsafat. Dengan menjadikan Baghdad sebagai pusat pemerintahan, Dinasti Abbasiyah berhasil menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada masa Dinasti Abbasiyah mulai banyak mengalihbahasakan karya-karya filsafat Yunani. Proyek terjemah ini dimulai sejak zaman Khalifah Al-Mahdi (775-786 M) dan Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan meningkat pesat pada masa Al-Ma’mun. Dalam waktu singkat, naskah kuno langsung membanjiri Baghdad dan Basrah. Kebanyakan karya tersebut berbahasa Yunani tetapi ada juga yang berasal dari Persia, India, dan bahkan Cina. Munculnya kertas sangat mempercepat dan memperluas kegiatan penerjemahan ini. Al-Kindi, sebagai salah satu sesepuh penerjemahan, memainkan peran penting dalam memperkaya khazanah intelektual Islam.
Al-Ma’mun, yang kerap disebut sebagai ‘Sang Khalifah Sains’, telah membawa peradaban Islam pada puncak kejayaannya dalam bidang sains. Pendirian Baitul Hikmah, sebuah lembaga penelitian yang fokus pada sains dan filsafat, menjadi bukti nyata komitmennya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Terjemahan karya-karya penting seperti Almagest karya Ptolomeus ke dalam bahasa Arab semakin memperkaya khazanah intelektual Islam. Dengan dukungannya pada kelompok Muktazilah yang berpandangan rasional, Al-Ma’mun berhasil menciptakan atmosfer yang kondusif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat.
Arah pemikiran Al-Ma’mun sudah terkontaminsai oleh paham muktazilah, yang meyakini bahwa Al-Qur’an bukanlah firman Allah Swt. melainkan makhluk. Hal ini menyebabkan para ulama yang mengingatkan sang khalifah agar tidak semakin jauh melangkah dipecat, dihukum cambuk, atau dijebloskan ke penjara. Kesalahan terbesar pemimpin dari Dinasti Abbasiyah ini adalah menghukum mati Imam Ahmad bin Hanbal, sosok besar dalam teologi Islam dan pencetus madzhab keempat.
Bab selanjutnya, menjelaskan tentang perkembangan Islam di Andalus. Andalus, yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Umayyah, menjadi gerbang masuk Islam ke Eropa. Kota Cordoba, sebagai pusat pemerintahan, mengalami kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan. Berbagai perpustakaan didirikan dan karya-karya ilmiah diterjemahkan, menarik minat para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia. Andalus melahirkan banyak ilmuwan berbakat, salah satunya adalah Abbas bin Firnas. Selain dikenal sebagai perintis penerbangan, Abbas bin Firnas juga memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ilmu optik dengan penemuan lensanya.
Andalusia juga melahirkan ilmuwan astronomi yang cemerlang. Al-Zarqali terkenal dengan penemuan astrolab yang lebih akurat dan tabel Toledo untuk menentukan titik aphelion. Sementara itu, Maslama al-Majriti, seorang ilmuwan perempuan asal Madrid, memanfaatkan astrolab untuk survei lapangan. Selain itu, Al-Zarqali juga menciptakan jam air yang berfungsi untuk menentukan penanggalan hijriyah.
Andalus tidak hanya dikenal sebagai pusat perkembangan sains, tetapi juga sebagai kiblat filsafat Islam. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Rusyd, dengan interpretasinya terhadap Aristoteles, Ibnu Arabi dengan konsep wahdatul wujud-nya, dan Musa bin Maimon dengan sintesis filsafat dan agama, telah menjadikan filsafat Andalusia sebagai salah satu yang paling berpengaruh dalam sejarah. Filsafat Andalus yang unik ini menjadi jembatan antara pemikiran Islam dan Barat, dan mewariskan gagasan-gagasan yang masih relevan hingga kini.
Andalus tidak hanya menjadi pusat perkembangan filsafat dan sains, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh terkemuka di bidang geografi dan sejarah. Al-Idrisi, seorang ilmuwan dan petualang, menciptakan peta dunia yang sangat akurat untuk zamannya, memberikan kontribusi besar pada perkembangan ilmu geografi. Ibn Battutah, penjelajah Muslim terkenal, dalam perjalanannya yang luas juga singgah di Kerajaan Samudra Pasai, memperkaya pemahaman kita tentang dunia pada masa itu.
Setelah masa keemasan Andalusia, terjadilah Reconquista, sebuah periode di mana kerajaan-kerajaan Kristen di Spanyol merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Muslim. Sementara itu, di dunia Islam, setelah kejayaan Abbasiyah berakhir, Dinasti Fatimiyah yang berpusat di Kairo menggantikannya.
Pada masa Dinasti Fatimiyah dan setelahnya, muncul tokoh-tokoh ilmuwan Muslim yang sangat berpengaruh, seperti Nasiruddin al-Tusi, seorang astronom terkemuka. Perkembangan astronomi pada masa itu didorong oleh kebutuhan untuk menentukan waktu salat dan awal bulan Ramadan. Selain itu, ilmuwan seperti Ibnu Sina (Avicenna) di bidang kedokteran dan Al-Hazen di bidang optik juga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Karya-karya dibidang kedokteran seperti kitab Qanun Al Thibb karya Ibnu Sina yang menjadi rujukan selama 5 abad. Selain itu Al-Razi yang mempelajari sistem saraf manusia termasuk mempelajari phlebotomy yang kita kenal dengan metode bekam. Ahli bedah asal Andalus lainnya adalah Az-Zahrawi. Selain itu terdapat pula dokter jantung seperti Ibnu al-Nafis. Pada masa itu, berkembang juga pengobatan ala sufi yang diprakarsai oleh Al-Ghazali dengan pemikiran mereka tentang konsep zuhud. Selain dua metode pengobatan diatas, madzhab Hambali yang memandang remeh praktek ekperimental dan metode sufisme Al-Ghazali.
Pada bagian kesepuluh dijelaskan tentang angka, dengan ditemukan konsep matematika oleh Al-Khawarizmi dan dituangkan dalam Aljabar. Teori Aljabar diciptakan karena untuk memudahkan penghitungan harta waris, pembagian hak, tuntutan hukum, hubungan antar manusia atau saat mengukur tanah, menggali kanal, dan perhitungan geometri. Umar Khayam, ahli matematika yang puitis juga menghitung kala revolusi yang sangat akurat yaitu 365,24219858156. Selain itu trigonometri juga untuk menentukan arah kiblat yang tepat oleh Al-Battani, meskipun trigonometri sudah berkembang sejak jaman Yunani kuno.metode eksperimen juga berkembang di bidang kimia oleh Al-Razi.
Pada masa ini juga dilakukan perhitungan rumit untuk menghitung keliling bumi, volume kerucut, elips dan penemuan-penemuan mesin. Pemikiran tentang asal usul manusia yang lebih tepatnya spekulasi tentang teori evolusi sudah digulirkan. Sayangnya, abad berganti abad, kejayaan sains Islam mulai menurun.
Meskipun kekhalifaan sudah berganti berpuluh-puluh kali dan di masa kekhalifaan Utsmaniyah diadakan reformasi pendidikan pun masih kalah jauh jika dibandingkan dengan masa-masa pendahulunya.
Kesimpulan
- Mengutip perkataan Muhammad Abdus Salam, penerima nobel fisika 1979, “saya sudah sering bertanya kepada ulama mengapa khotbahnya tidak pernah mendorong umat muslim untuk menekuni sains dan teknologi, mengingat seperdelapan dari kitab suci membicarakan sains dan teknologi. Kebanyakan menjawab bahwa mereka ingin mengkhotbahkan itu tetapi tidak tahu banyak mengenai sains modern. Merekahanya mengetahui sains pada zaman Ibnu Sina.”
- Buku ini sangat luar biasa, seolah pembaca diajak melewati waktu berabad-abad yang lalu dimana jika di hubungkan di dunia islam sudah melampaui masa kejayaan sainsnya. Hanya bisa mengucapkan maha besar Allah dengan segala kuasaNya.
- Memberikan semangat bagi pembacanya, jika membaca tuntas. Bahwa ilmu Allah itu luas seperti di dalam Q.S Al-Kahfi ayat 110. Banyak ayat-ayat yang menjadi pemantik bagi diri untuk bisa seperti para saintis muslim.
- Berlomba-lomba dalam kebaikan, mengarungi samudera ilmu yang tidak ada batasnya.