Malang (MI Manarul Islam) – Hafidz Indonesia merupakan sebuah ajang di mana anak-anak penghapal Al Quran berkompetisi dan diuji hapalannya oleh para juri yang merupakan ustadz maupun syaikh ternama. Ajang ini disiarkan setiap tahunnya oleh salah satu stasiun televisi swasta menjelang bulan Ramadhan hingga memasukin bulan Ramadhan. Dalam ajang Hafidz Indonesia tahun 2020 ini, salah satu peserta berasal dari MI Manarul Islam Malang. Ia adalah Muhammad Fachrie Rahmatullah, santri kelas 1 MI Manarul Islam. Ia berhasil lolos tahap seleksi untuk bisa tampil di ajang Hafidz Indonesia 2020. Perjuangannya layak kita simak bersama supaya bisa menjadi inspirasi untuk kita bersama.
Pada hari Jumat, 6 Desember 2020 lalu, Fachrie berangkat bersama ibunya ke Jakarta untuk mengikuti seleksi tahap selanjutnya. Kepala MI Manarul Islam, Zainul Mujahid, beserta wali kelas, Kornit Ubudiyah dan Tahfidz, serta Kornit Kesiswaan turut mengantar Fachrie dan ibunya ke bandara Abdurrahman Saleh, Malang. Hal ini dilakukan untuk memberikan dukungan moril kepada ananda Fachrie. “Kami memberikan apresiasi yang luar biasa kepada ananda Fachrie karena telah lolos tahap seleksi hingga diundang ke Jakarta,” kata Zainul. Ia menambahkan bahwa bukan hanya dukurang moril yang diberikan tetapi doa dan juga uang saku yang diberikan oleh Yayasan Amal Sholeh Malang (YASMA).
Fachrie sudah lolos tahap pertama yaitu mengumpulkan video yang berisi dirinya mengaji. Lalu dilanjut tahap kedua yaitu wawancara oleh pihak RCTI. Kornit Ubudiyah dan Tahfidz, M. Shobri, mengatakan ada ribuan video yang masuk ke panitia, namun hanya dipilih 50 terbaik dan Fachrie termasuk salah satunya. “50 besar menurut kami sudah bisa dibilang juara. Tinggal meluruskan niat saja untuk orang tua dan untuk memotivasi teman-temannya,” ujar Shobri. Pria kelahiran Pamekasan itu juga berharap agar Fachrie bisa mendakwahkan Al Quran.

Tidak hanya harapan dan dukungan dari pihak madrasah. Ibu Fachrie pun memberikan dukungan penuh untuk ananda Fachrie dan mengantarnya hingga ke Jakarta. “Murojaah lebih intensif di rumah selain di madrasah dan tempat mengaji. Kalau anaknya lagi main, saya putarkan murotal saja supaya anaknya mendengarkan. Kan tidak seterusnya di murojaah. Ahad juga ada kegiatan Tapak Suci di madrasah,” ujar Nilam, ibunda Fachrie ketika diwawancara dalam perjalanan menuju bandara Nilam juga menambahkan bahwa awal mula Fachrie semangat menghafal Al Quran karena adiknya yang meninggal ketika usia 2 bulan. Ia termotivasi karena ingin bertemu dan berkumpul dengan adiknya di surga nanti. Nilam berharap usaha Fachrie ini mendapat ridho dari Allah. “Saya tidak menarget Fachrie harus menang. Pokoknya yang terbaik dan mendapat ridho dari Allah saja,” ujar wanita berkacamata ini. Tidak hanya pihak madrasah, keluarga besar Fachrie dan beberapa orang tua santri sudah menunggu di bandara untuk memberi dukungan dan semangat kepada Fachrie dan ibundanya. Mereka pun melepaskan kepergian Fachrie dan ibundanya dengan pelukan motivasi.

Fachrie dan ibundanya berangkat ke Jakarta untuk mengikuti tahap seleksi ketiga sebelum benar-benar bisa tampil di televisi. Jika pembaca sering mengikuti acara tersebut di televisi, mungkin banyak yang sudah mengetahui penampilan Fachrie. Ia tampil perdana pada tanggal 23 April 2020 lalu (yna).